Trip Report QZ267 Singapore – Jakarta

Categories Flight Report, Travel

Ceritanya saya bisa pulang (pada akhirnya) setelah terkurung di Pulau NTU selama 4 bulan. Rekor terlama saya gak ketemu orang tua setelah rekor sebelumnya 1,5 bulan semasa SMA dan 2 bulan di semester 1 kemarin. Hari terakhir ujian semester berlangsung tanggal 8 Mei, dan tanggal 9 nya saya langsung pulang ke Jakarta. Sebenarnya saya ingin ada jeda beberapa hari supaya bisa sedikit santai dan juga bisa jalan-jalan ke kota, tapi berhubung ada pekerjaan di Jakarta tanggal 10 pagi jadi ya mau gimana lagi.

Sejak pukul 07.00 tanggal 9 Mei tersebut saya sudah terbangun. Penerbangan saya ke Jakarta adalah QZ267 yang berangkat pukul 17.10 SGT, namun karena saya mesti memindahkan barang terakhir (bantal guling dsb) ke kamar teman untuk dititipkan jadi saya harus membawanya kesana terlebih dahulu. Dan juga karena bawaan saya ke Jakarta cukup banyak, saya meminta teman saya ini untuk mengantar. Daripada bayar taksi mahal-mahal ($30 buat non-peak hours) mending bayarin mereka makan trus naik MRT.

Setelah pergi menitipkan barang, saya dan 2 teman saya pun meninggalkan NTU pukul 09.50 karena mereka ada interview buat part-time job mereka selama masa liburan ini di Clarke Quay. Rutenya seperti biasa, bus 199 ke Boon Lay → MRT East West Line dari Boon Lay ke Outram Park → MRT North East Line dari Outram Park ke Clarke Quay. Tiba disana, saya menunggu interview mereka selama sekitar satu jam. Saat mereka selesai, waktu saat itu adalah waktu makan siang. Terbesit ide untuk makan siang di Bak Kut Teh sebelah tempat interview, apalagi tempat itu terkenal banget. Sayangnya karena terkenal ya rame… Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Changi Airport aja.

Bak Kut Teh yang terkenal di Clarke Quay itu

Rute dengan MRT sebenarnya akan lebih mudah dan pendek jika kita mengambil Clarke Quay → Outram Park → Tanah Merah → Changi Airport karena bawaan banyak dan jumlah stasiunnya lebih sedikit. Tetapi karena alasan ingin ‘jalan-jalan’ dan juga mencari poin Foursquare sebanyak-banyaknya akhirnya kami mengambil rute Clarke Quay → Serangoon → Paya Lebar → Tanah Merah → Changi Airport. Cukup panjang tapi paling enggak saya sudah pernah berada di area timur laut Singapura hehehe.

Tiba di Changi Airport MRT Station (CG2), kemudian sebelum mencapai Terminal 1 saya melalui Terminal 3. Yup, karena tidak ada akses langsung dari MRT ke Terminal 1 maka harus lewat T2/T3 dulu (dan kemudian naik SkyTrain),  tapi Terminal 3 tentu jauh lebih menyejukkan mata ketimbang Terminal 2.

Terminal 3 Departure Hall

Check-in berjalan lancar. Bagasi saya setelah ditimbang beratnya 21 kg sementara saya beli bagasi hanya 20 kg, namun karena hand carry saya terlihat ringan maka si petugas check-in nya mengizinkan saya overbaggage tanpa tambahan biaya. “Boleh lah,” kata si petugas dengan aksen Melayu yang kental. Jelas saja ransel saya terlihat ringan, sebelum check-in saya mengeluarkan laptop, iPad dan botol minum yang berperan besar terhadap berat ransel saya dan menitipkannya ke teman saya. Sebelum masuk airside, saya traktir teman-teman saya makan di Aston Specialties. Berat juga sih $13,5 per orang tapi mereka udah nganterin plus menyediakan tumpangan buat barang-barang saya di kamar mereka, jadi gak masalah.

Aston Specialities Double Up Chicken

Selesai traktir saya langsung masuk ke airside karena waktu udah pukul 15.00. Jam-jam segitu adalah saat dimana penerbangan-penerbangan dari maskapai Eropa tiba. Ada beberapa target yang mungkin bisa terlihat oleh saya:

  • Air France AF254 dari Paris: jadwal ketibaan 14.15, jadi saya cuma kebetulan lihat jarak jauh dari Astons
  • KLM KL835 dari Amsterdam: jadwal ketibaan 15.20, jadwalnya pas tapi bakal segera lanjut ke Denpasar jadi harus cepat dicari
  • Lufthansa LH778 dari Frankfurt: jadwal ketibaan 15.55
  • Turkish Airlines TK66 dari Istanbul: jadwal ketibaan 16.20
  • Finnair AY81 dari Helsinki: jadwal ketibaan 16.40, mepet jadwal boarding
  • SWISS LX178 dari Zurich: jadwal ketibaan 17.20, udah hampir gak mungkin

Karena jam yang udah mepet dengan ketibaan mereka dan fakta bahwa beberapa beroperasi di Terminal 2, maka saya buru-buru masuk. Untungnya imigrasi gak pernah jadi masalah karena udah punya Student Pass.

Apron T1. Ada MF dan QF
Apron T1 #2

Sebelum mencari mereka, saya menyempatkan dulu mengunjungi The Social Tree dan booth Be A Changi Millionaire karena saya dapet kupon undian dari makan di Astons tadi. Area ini adalah area yang cukup lapang dan buat saya jadi alasan Terminal 1 sedikit lebih nyaman dari Terminal 2.

The Social Tree dan Be a Changi Millionaire booth

FIDS kala itu

Setelah selesai dengan main-mainnya, saya langsung bergegas ke Gate D40 karena disitu KL835 parkir. Memang gak bisa masuk ke gate, tapi paling gak bisa spot pesawatnya cukup dekat.

KLM B77W

Dapet KLM, kemudian kelihatan kalau Lufthansa baru mendarat. Saya langsung lari-lari ke Terminal 2, namun karena ternyata pesawatnya parkir di ujung concourse jadi rasanya terlalu capek buat dikejar :p. Paling enggak masih bisa diamati diantara armada-armada SQ.

Lufthansa A380 dari jauh

Karena AY dan LX sepertinya tidak mungkin dikejar, saya balik lari-lari dari Terminal 2 ke Concourse C karena TK66 dijadwalkan parkir disitu sebelum lanjut terbang ke Jakarta. Buat yang gak tau, Terminal 1 kebagi 2: Concourse C yang deket T3 dan Concourse D yang deket T2, jadi dari T2 saya jalan jauh ke Concourse C. Lalu kemudian saat sampai disana baru saya dapat info penerbangannya delay. Capek deh… Ya sudah saya memutuskan buat masuk ke gate aja deh. Waktu itu kebagian di D34.

Cathay Pacific A330-343X yang mau ke HKG

Satu hal yang saya bingungkan adalah di Boarding Pass tertera jadwal boarding adalah 16.30. Cukup normal jika dibandingkan dengan jadwal terbangnya yang pukul 17.10, namun saya cek di flightradar24 dan menemukan fakta bahwa pesawat yang akan melayani QZ267 adalah QZ266 dari Jakarta yang jadwal tibanya adalah pukul 16.40! Ada 2 hal yang bisa disimpulkan: waktu boarding pasti telat dan turnaround time AirAsia emang cepetnya gak karuan. Dan kenyataannya, pesawatnya baru tiba di gate pukul 16.55. Pukul 17.10 langsung boarding. Salut sama efisiensi waktu AirAsia.

Tunggangan saya hari itu. PK-AXD!


QZ267 Singapore Changi Airport (SIN) to Jakarta Soekarno-Hatta International Airport (CGK)
Airbus A320-216 PK-AXD
Estimated Departure Time: 17.10 SGT
Actual Push Back Time: 17.29 SGT
Actual Departure Time: 17.45 SGT
Estimated Arrival Time: 18.00 WIB
Actual Arrival Time: 17.59 WIB

Nomor tempat duduk saya kala itu 19F. Enak sih dapet pinggir jendela, tapi agak di belakang. Dan saya lupa kalau gak ada autogate di Terminal 3 CGK, jadi setibanya di Jakarta pasti harus berebut cepet-cepetan keluar pesawat.

Seat pitch. Ya namanya juga LCC… (tinggi badan saya sekitar 175 cm)
Isi kantong doraemon + hape + paspor

Selesai liat-liat kantong doraemon, langsung lihat-lihat jendela. CX yang awalnya di gate sebelah udah pushback ternyata.

9M-AQZ berwingletnya Malaysia AirAsia yang akan berangkat ke Penang sebagai AK 758

Proses boardingnya gak gitu lama untungnya, mungkin juga memang QZ nya kejar setoran karena setelah nyampe CGK langsung narik lagi ke Kuala Lumpur International Airport (KUL). Lama delay jadi berkurang. Sambil pushback, para FA pun memperagakan safety instruction. Dan kemudian langsung terbang. Untungnya hanya ada Tiger, Cebu Pacific, dan SilkAir yang ngantri kala itu.

Finnair A340 lagi dipindahin ke remote parking sebelum balik ke Helsinki
Ada MI dan TR lagi ngantri
Prepare Take-off Position
Ketemu SWISS juga akhirnya
tancaap gass!!
Ketemu Lufthansa lagi 😀
MH B737-800
Airbus A330-343 nya SQ
Mulai menukik
Ada B777-200ER dan A380 nya SQ lagi bobok

Naik terus!!
Good bye Singapore!! See you in August 🙂
Sunset 🙂

Setelah tinggi, saya main iPad sebentar dan setelah itu saat dibagikan kartu deklarasi barang saya tiba-tiba ngobrol sama penumpang sebelah. Dia ngakunya karyawan di kementerian kehutanan dan lagi ada urusan dinas, dan kami ngobrol di sepanjang perjalanan sampai pesawat approaching. Oh iya, load factor penerbangan ini lumayan, sekilas lihat harusnya diatas 85%.

Approaching CGK





Mulai ngerem!!



Ada ANA B787 disana, sayang kamera iPad kurang bagus…

 

SQ B772

 

GA B77W! Apa ini yang akan saya tumpangi tanggal 28 Juni nanti?

 

KLM B77W yang mau berangkat ke Amsterdam via Kuala Lumpur

 

Thank you PK-AXD!

Setelah memotret pesawat, saya masuk ke bis yang hampir penuh. Beruntungnya saya, karena saya masuk pas bisnya mau penuh, saya dapet posisi dekat pintu dan otomatis keluar pertama. Alhasil, gak nemu antrian panjang di imigrasi. Sialnya di imigrasi saya tertahan beberapa lama karena paspor saya tidak ada cap meninggalkan Indonesia. Wajar, waktu berangkat saya pakai autogate di Terminal 2. Begitupun saat di Singapura, tidak ada cap kedatangan dan keberangkatan dari imigrasi Singapura karena saya menggunakan autogate. Saya kemudian diminta menunjukkan student pass saya. Masalahnya adalah, kenapa datanya gak masuk ke imigrasi? Sistemnya kacau ini. Ibu-ibu yang dibelakang saya sampai ngedumel karena saya bikin lama.

Kelar imigrasi, saya ambil bagasi. Gak perlu terlalu lama. Tapi saat saya mau bawa barang-barang ke x-ray check, saya ditahan lagi karena saya gak isi kartu deklarasi. Err, biasanya di T2 gak pernah isi gak masalah… Ya udahlah baru isi disana jadinya.

WRAP-UP

Dengan harga yang sangat murah (saya beli pas lagi promo, harga tiket $50 dan isinya pajak semua), saya puas akan penerbangan ini. Ada uang ada barang gitu loh. Delay nya pun gak terlalu lama dan saya cukup yakin penyebab delay adalah kepadatan di CGK. Jadi nantinya kalau AirAsia ngasih promo lagi, kenapa enggak? #mahasiswapelit

2 thoughts on “Trip Report QZ267 Singapore – Jakarta

  1. 🙂 🙂 🙂 Seru juga ya…. jalan-jalan liat flight2 yang baru datang.
    Kirain tadinya mau naik salah satu flight itu untuk ke Jakarta,
    dengan beli tiketnya on the spot…. salah paham. 🙂
    Ternyata pengen liat dan foto masing2 pesawat ya…

    Semoga suatu saat kelak, akan naik semua pesawat2 itu.
    Mana yang paing ingin ditumpangi ?

    Salam,
    Chilmar

    1. hehehe, cuma Turkish om yang ke Jakarta via Singapura, kalau Lufthansa sama KLM ke Jakarta via Kuala Lumpur. Mereka juga full service airline om, jadi ortu bakal gak ngijinin karena bakal mahal…
      Saya naik Turkish yang notabene maskapai terbaik Eropa belakangan ini (menurut Skytrax) sewaktu ke Yunani, dan selain makanan saya rasa Turkish agak biasa-biasa aja om. Pramugara/i nya dingin, khas orang Eropa. Cuma kan berhubung di Asia jadi jarang lihat maskapai-maskapai Eropa sana. Untuk saat ini sih saya pingin nyoba Singapore Airlines atau Cathay Pacific dulu, karena sampai sekarang baru 3 maskapai full service yang saya naiki: Garuda Indonesia (terakhir 2006, tapi akhir bulan ini terbang naik GA), Malaysia Airlines (pas 2003, jadi udah lama banget), sama Turkish kemaren. Penasaran dengan level pelayanan mereka sampai dapat bintang 5…

Leave a Reply